Artikel

MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN KEBUDAYAAN DI JAWA BARAT DAN SUMATERA BARAT

A. JAWA BARAT

Masuknya agama Islam ke Jawa Barat pertama kali diawali pada abad ke-17 dan sebelum Islam masuk ke Jawa Barat, Jawa Barat menganut agama Budha dan Hindu. Agama Hindu adalah agama yang pertama kali datang ke Jawa Barat, yang ditandai dengan ditemukannya sebuah catatan batu tertulis. Dan setelah itu Hindu, datang juga agama Budha di Jawa Barat. Pada abad ke-17 itulah datang seorang Walisongo yang bernama Sultan Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan panggilan Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati inilah yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Pusat penyebaran agama Islam pertama kali berada di Cirebon. Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di Jawa Barat dengan cara melalui kesenian seperti wayang golek dan dalam pementasan wayang golek tersebut dengan cara menyisipkan ajaran agama Islam. Selain dengan wayang golek menyebarkan agama Islam di Jawa Barat yaitu dengan cara melalui alat musik seperti gamelan. Dan dalam memainkannya dan menyanyikan musik gamelan dengan berlafadzkan ajaran tentang Islam.

Jawa Barat terkenal dengan budaya Sunda, budaya Sunda ini sudah melekat pada masyarakat Jawa Barat. Kebudayaan Jawa Barat terdapat pengaruh-pengaruh asing, Cina merupakan pengaruh asing yang paling banyak terdapat di Jawa Barat. Karena Sunan Gunung Jati menikah dengan seorang puteri yang berasal dari Cina, yang bernama puteri Ongtin. Dan puteri Ongtin ini menganut agama Islam yang diajak oleh Sunan Gunung Jati, dan sejak itulah pengaruh Cina di Jawa Barat dan kebudayaan Jawa Barat merupakan hasil kebudayaan Cina. Motif batik yang terdapat di Jawa Barat merupakan campuran dari kebudayaan Cina, motif batiknya seperti motif bambu-bambu yang berasal dari negri Cina dan bermotif burung bangau. Selain dari segi motif pengaruh kebudayaan Cina terhadap kebudayaan Jawa Barat juga terdapat alat musik seperti rebab dan tambolin yang merupakan adaptasi dari kebudayaan Cina. Masyarakat jawa barat dimulai dari bahasa yang unik , tarian jaipong dan wayang goleknya yang mengagumkan, dan yang tidak kalah mengagumkan adalah angklung adalah alat musik yang terbuat dari bambu yang menghasilkan suara khas yang merupakan ciri khas dari Jawa Barat. Banyak alat musik di Jawa Barat yang jarang digunakan lagi bahkan ada alat musik yang sudah  tidak digunakan lagi dan tidak dikenal lagi yaitu alat musik lisung. Lisung yaitu sebuah alat untuk menumbuk padi, kenapa alat menumbuk padi ini disebut alat musik? Karena pada zaman dahulu wanita yang menumbuk padi merasa bosan dan dengan alat ini wanita yang menumbuk padi dapat menghilangkan rasa bosan tersebut dengan alat musik ini. Alat musik ini menghasilkan suara irama nada yang indah. Namun sayangnya alat musik ini sudah jarang dipergunakan lagi bahkan sudah tidak dikenali lagi oleh masyarakat sekalipun masyarakat Sunda sendiri. Karena sekarang telah banyak modernisasi yang digunakan. Selain lisung alat musik yang hampir jarang ditemukan yaitu angklung. Angklung adalah alat musik yang terbuat dari bambu dan cara memainkannya dengan digoyangkan, digetarkan dan dihentakkan. Pengertian angklung tersebut hanya di daerah Jawa Barat, karena didaerah lain Bali mempunyai pengertian yang berbeda. Fungsi angklung pertama kali digunakan untuk ritual yang berhubungan dengan kegiatan penanaman padi dan masa panen. Seiring dengan perubahan zaman, fungsi angklung telah berubah yang semula sebagai sarana upacara ritual dan berkembang sebagai seni. Alat musik angklung akan diusulkan sebagai cagar budaya Indonesia agar tidak diakui atau diklaim oleh negara lain. Selain lisung dan angklung di Jawa Barat masih banyak terdapat alat musik bambu tradisional diantaranya alat musik karinding yaitu salah satu alat musik tiup yang berasal dari Jawa Barat, yanng terbuat dari pelepah pohon enau. Alat musik ini biasa digunakan masyarakat petani untuk mengusir hama-hama disawah, selain itu untuk menghibur hati yang bosan dan penat pada saat berada disawah. Alat musik ini disuarakan dengan mulut dan akan menghasilkan nada yang indah.

Peran pemerintah dalam kebudayaan ini, misalnya pemerintah memberikan hak paten untuk kebudayaan yang ada agar kaebudayaan tersebut tidak berpindah tangan atau diakui oleh negara lain. Selain itu juga pemerintah harus memasukkan kurikulum kebudayaan pada sekolah bahakan universitas sekalipun. Selain pemerintah, sebagai penerus bangsa kita juga harus melestarikan kebudayaan yang ada agar tidak punah dengan cara melakukan pameran tentang kesenian daerah, dan lain-lain agar kebudayaan kita tidak akan hilang sampai kapanpun.

Jawa Barat memiliki banyak sekali mascot, namun ada cerita atau dongeng yang terkenal di Jawa Barat yaitu dongeng tentang si Kabayan. Menurut narasumber kami, si Kabayan bukan merupakan mascot dari Jawa Barat tetapi hanya sebuah cerita daerah sama seperti cerita Cinderella dan Tujuh Kurcaci. Cerita di si Kabayan bukan sepenuhnya cerminan dari masyarakat Jawa Barat. Tetapi ada sifat dari cerita si Kabayan yang merupakan cerminan dari Jawa Barat seperti kepolosan dan keluguannya. Cerita si Kabayan ini hampir sama dengan cerita dongeng lainnya, seperti cerita Abunawas.

Rumah bagi masyarakat Jawa Barat selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga sebagai aktifitas keluarga dalam kehidupan dengan tradisi-tradisi yang ada dan sebagai tempat memancarnya rasa, karsa, dan karya yang dimiliki dan sebagai tempat untuk berlindung dari terik matahari dan hujan. Pada umumnya rumah adat Sunda disebut dengan rumah panggung. Karena posisi rumah yang melayang diatas permukaan tanah yang diberi tumpuan dari batu kali dan ditopang oleh beberapa pondasi. Rumah panggung ini sekitar 40 – 60 cm dari permukaan tanah. Ruang tanah pada bawah rumah panggung digunakan untuk menyimpan kayu bakar dan untuk hewan ternak bagi masyarakat Jawa Barat. Bentuk rumah panggung memiliki makna tentang pola keseimbangan hidup dimana harus selarasnya antara hubungan vertikal yaitu hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan hubungan horizontal yaitu interaksi manusia dengan alam semesta dan hubungan antar manusia.

Pada Jawa Barat tidak mengenal dengan istilah marga dan Jawa Barat memiliki sistem bilateral yaitu garis keturunan ibu dan ayah. Ciri khas dari Jawa Barat beraneka ragam yaitu dari alat musik seperti angklung, gamelan dan sebagainya, dari makanan Jawa Barat terkenal dengan peuyeum, dan banyak lagi makanan lainnya.

Narasumber : Bpk. Windi

Lokasi: Anjungan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah

B. SUMATERA BARAT

Islam pertama kali masuk di daerah Sumatera Barat yaitu dimana masyarakat tersebut masih menganut animisme dan Sumatera Barat juga pernah manjadi daerah penyebaran agama Budha. Dan datanglah seorang jazirah arab atau biasa disebut pedagang yang membawa ajaran – ajaran agama Islam di Sumatera Barat. Islam kemudian mewarnai budaya Sumatera Barat secara kental. Tokoh yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam pertama di Sumatera Barat adalah Syekh Burhanuddin. Adat Minangkabau berfilosofi adat bersanding sara’, sara’ kitabullah yang artinya adat itu berlandaskan agama yang berlandaskan AlQuran dan hadist. Karena terdapat istilah tersebut, orang minang sangat kental dengan Islam, dan jika ada orang minang yang berpindah keyakinan dari agama Islam maka orang tersebut tidak dianggap lagi sebagai orang minang. Perkembangan Islam di Sumatera Barat bermula dari daerah pesisir yaitu Pariaman dan sekitar yakni pesisir selatan dan kemudian Islam berkembang ke daerah – daerah lainnya.

Pada kebudayaan Sumatera Barat ada beberapa hal yang harus diluruskan yaitu ada seseorang yang beranggapan bahwa dalam pembagian harta waris di Sumatera Barat yaitu perempuan mendapatkan lebih banyak yaitu memiliki dua bagian sedangkan laki – laki memiliki satu bagian. Namun menurut narasumber yang kita tanyai yaitu anggapan tersebut tidak benar, pembagian harta warisan sama seperti syariat Islam yaitu lelaki lebih banyak yaitu dua bagian sedangkan permpuan satu bagian. Harta dalam masyarakat Sumatera Barat dibagi menjadi dua yaitu harta pusaka dan harta rendah. Harta pusaka tidak dapat dibagikan atau diwariskan tetapi harta tersebut hanya dapat digadaikan saja, dan mempunyai tiga ketentuan yaitu :

  1. Ada mayat terbujur dirumah gadang, maksudnya yaitu bila ada keluarga yang meninggal dan tidak mempunyai biaya untuk memakamkannya, maka harta pusaka tersebut boleh dipergunakan.
  2. Ada anak gadis yang belum menikah
  3. Apabila rumah gadang ketirisan atau hancur, maka harta pusaka tersebut boleh dipergunakan untuk memperbaiki rumah gadang tersebut.

Kekeliruan yang kedua dalam adat di Minang yaitu mengenai pernikahan. Banyak yang beranggapan bahwa pada pernikahan masyarakat minang perempuan membeli laki-laki, tetapi anggapan tersebut tidak benar. Seorang wanita yang menikah dengan seorang laki-laki, dan laki-laki yang memiliki gelar maka pihak perempuan akan memberikan uang kepada pihak laki-laki dengan maksud sebagai uang jemput bukan sebagai uang beli yang selama ini dianggap orang. Uang jemput ini bernilai sebuah kalung berliontin emas, dan berat dari liontin tersebut tergantung dari pangkat yang calon pengantin laki-laki. Dan jika seorang calon pengantin laki-laki seorang dokter maka berat gram dari liontin tersebut lebih besar berbeda jika seorang pengantin laki-lakinya seorang petani.

Yang dimaksud suku di Minangkabau yaitu marga, ada yang beranggapan orang minang hanya boleh menikah dengan satu suku saja itu keliru. Orang minang boleh menikah dengan siapa saja biarpun berbeda suku untuk memiliki marga yang berbeda.

Pada masyarakat minang, yang mencarikan jodoh buat anak gadis yaitu mamak atau om. Dan anak laki-laki yang sudah baligh tidak boleh tinggal dirumah gadang lagi, anak laki-laki tersebut tinggal di surau atau biasa disebut dengan masjid atau musholla. Dikarenakan supaya tidak muncul hawa nafsu dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Laki-laki tersebut tinggal di surau untuk belajar mangaji, silat, ataupun ilmu pendidikan. Dan bagi laki-laki yang telah menikah, jika memiliki istri yang berbeda lingkungan atau berbeda kampung maka laki-laki tersebut pada malam harinya akan memberikan nafkah lahir dan batin untuk istrinya sedangkan pada siang harinya laki-laki tersebut akan pulang kerumah orang tuanya. Di Minangkabau terdapat sistem matrinial yaitu garis keturunan dari ibu.

Narasumber : Bpk. Herman Tanjung

Lokasi: Anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah

Waktu:  Jum’at, 8 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

June 2017
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: